Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa
Tentunya lirik di atas udah gak asing lagi di telinga kita...
Yaaah, "Ibu Pertiwi"...
Dulu lagu ini sering saya nyanyikan bersama teman-teman SD saya...
Dan kini saya makin jarang mendengar bahkan menyanyikan lagu serupa bertema tanah air...
(Karena udah mahasiswa dan gak pernah ikut upacara kali yaa??)
Tapi dalam lubuk hati terdalam, saya sangat mencintai tanah air ini...
Karena di sini saya dilahirkan, di sini saya dibesarkan, dan di sini pula saya akan mengabdi...
Melihat lirik Ibu Pertiwi di atas, saya sungguh sedih...
Ibu Pertiwi kita dari masa saya duduk di bangku sekolah dasar dan pasti saat lagu ini diciptakan, hingga zaman sekarang pun tak henti-hentinya menangis...
Ia selalu kesusahan, selalu berdoa, kapan ini semua akan berakhir...
Ia bisa kian merasa sedih, jika putra-putri kesayangannya tak sanggup untuk membuatnya merasa bahagia, tak sanggup mengabdi dengan baik kepadanya, dan tak sanggup menjaga dan merawatnya karena umurnya makin bertambah...
Ibu Pertiwi kita...
Baru beberapa hari yang lalu usianya 65 tahun...
65 tahun lalu, putra-putra terbaiknya melepas belengu yang bernama 'penjajahan' dari sisinya...
Putra-putra terbaiknya yang rela mengorbankan jiwa, raga, harta untuknya...
Hutan, gunung, sawah, lautan adalah hartanya...
Yang harus kita lakukan sebagai generasi penerusnya adalah menjaga hartanya sebaik mungkin...
Tapi, kenapa masih ada ya, generasinya yang serakah mengambil miliknya hanya untuk kepentingan pribadi saja??
Hmm, semoga mereka tersadarkan, kalo Ibu Pertiwi kita sungguh menderita akan hal itu...
Sebagai penerus, saya berharap saya bisa menjadi salah seorang putri terbaiknya...
Melihat Ibu Pertiwi bersama senyum terindahnya :)
No comments:
Post a Comment